Tetapi inilah faktanya bahwa nemang keinginan manusia sebelum habis nafasnya adalah memenuhi kepuasan lahiriah, yang dilambangkan dengan satu simbol yang bisa mewakili dan memenuhi untuk mengupayakan semua nafsu dunia. Itulah kekayaan. Dengan kekayaan seakan semua bisa dibeli. Inilah daya tarik luar biasa dari kekayaan. Meskipun kewajaran dari penggunaannya mestinya bisa dikontrol. Alat kontrolnya menurut saya adalah kesadaran akan kematian. Dimana semua kekayaan pasti tetap menjadi nafsu duniawi yang tidak bisa dibawa untuk dinikmati dikehidupan setelah kematian. Tak satupun bisa dibawa justru dampaknyalah yang akan kebawa untuk diminta peetanggung jawabannya.
Tapi selama masih hidup, mencari rejeki memang wajib agar bisa bertahan hidup, bahkan menikmati hidup, bahkan bisa membantu kehidupan orang lain. Nah inilah kebaikan-kebaikan yang mulia terhadap kekayaan. Berarti selama masih diizinkan merasakan kekayaan, bolehlah dirasakan saja. Sensasi kekayaan yang nyata. Kaya dalam arti yang sebenarnya. Tapi pertanyaannya adalah bagaimna untuk mencapainya.
Berbagai macam cara bisa dilakukan. Ada cara baik dan ada juga cara tidak baik. Cara yang paling ingin diharapkan banyak orang adalah cara kaya yang baik, halal dan menyenangkan. Tanpa tumbal. Apa? Tanpa tumbal? Menurut saya kekayaan tanpa tumbal adalah mustahil. Untuk mencapai hal yang luar biasa, pasti ada pengorbanan. Tumbal sangat diperlukan. Tumbal adalah alat bayar yang pantas untuk sebuah pencapaian prestasi kekayaan. Semakin tinggi prestasi kekayaan yang dinilai secara obyektif menurut banyak orang, maka semakin berharga pengorbanan maupun tumbal sebagai gantinya.Sebagai contoh, tumbalnya orang agar mnjadi pandai adalah dengan giat belajar. Tumbal untuk menjadikan orang kaya raya adalah bekerja giat dan keras. Tapi kenapa ada contoh sebagian besar kalangan yang merasakan bekerja sampai terlalu giat dan keras tapi miskin juga. Menurut saya inilah kerja tanpa dibantu oleh IZIN. Bekerja tanpa mendapatkan izin, sama seperti tamu tak diundang masuk je rimah tanpa izin dan ngotot nggak mau keluar. Akhirnya pemilik rumah mengalah dengan hanya membiarkan saja alias mencuekin, sampai capek sendiri dan bosan akhirnya keluar sendiri dengan kecewa.
Siapa tuan rumah dalam contoh di atas? Hatilah. Izin memang harus dillakukan. Saran saya adalah sebelum masuk rumah orang, maka minta izinlah terlebih dahulu. Dan jangan memaksa masuk apabila belum ada izin atau bahkan tidak ada izin, tidaklah sopan kalau kita memaksa atau dengan ceroboh mengambil sikap masa bodoh, dan terus masuk. Dan bersiap-siaplah untuk tersiksa batin karena yang empunya rumah tak berkenan. Maka terjadilah jerja yang harus terlalu keras dengan hasil yang terlalu kecil. Inilah pekerja tulen, alias pekerja sejati. Tanpa imbalan berarti setuju untuk puas dan kadang diaeetai perkataan ikhlas di mulut, meskipun dalam hati siapa tahu.
Siapa pemilik rumah yang ingin kita masuki itu? Menurut saya lemiliknya adalah pemilik jagat raya dan alam semesta ini. Itulah pemilik terkuat dan paling sah yang paling masuk logika maupun bukan logika. Itulah Tuhan Yang Maha Esa, penguasa alam semesta. Minta uzin paling benar dan ping aman adalah sama Dia. Dan yang lain akan mengikutinya. Dan bagaimana kita tahu ada izin atau dilarang. Inilah paling sulit yang kebanyakan dialami manusia. Karena ketidak tahuan manusia yang sudah minta izin tapi belum tahu jawaban padahal kebutuhan hidup sudah melilitnya. Apakah ini menjadi hukuman bagi yang tidak.membiasakan peka terhadap kemungkinan gambaran hidup yang harus dibaca dan fipahami. Mungkin diperlukan kata yang tepat dan kedekatan yang makin dekat dengan waktu yang diperpanjang. Lebih dekat dan lebih dekat sampai suara kita terdengar dan kita bisa mendengar. Niscaya terlihat gambaran nyata di depan mata mana hang harus kita kerjakan. Usaha keras dan pengorbanan waktu dan setia adalah tumbal yang masuk akal bisa kita lakukan untuk menikmati hidup ini dengan kekayan yang hadir sebagai pelengkap katena kerajaan Allah yang utama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar